Desain Rumah Tropis Klasik 1 Lantai yang Menyatu dengan Lingkungan di Muntilan
Merancang rumah tinggal di dalam satu tapak yang telah memiliki bangunan sebelumnya membutuhkan pendekatan yang matang. Rumah baru tidak hanya perlu nyaman untuk ditinggali, tetapi juga harus hadir selaras dengan lingkungan yang sudah terbentuk. Hal inilah yang menjadi dasar perancangan rumah tinggal satu lantai milik Ibu Bertha di kawasan Joglo Ndeso Resto, Muntilan, Magelang.
Berdiri di atas lahan seluas 412,5 m² yang telah diisi bangunan restoran dan rumah lama, hunian baru ini ditempatkan di area transisi di antara dua massa bangunan tersebut. Posisi ini membuat rumah baru berperan sebagai penghubung, baik secara visual maupun fungsi, tanpa mengganggu aktivitas bangunan yang sudah ada.
Baca Juga : Desain Rumah Japandi Tropis dengan Open Plan dan Area Bar Outdoor di Bantul
Hunian Baru sebagai Penghubung di Dalam Tapak
Rumah baru dirancang menempati area kosong di depan rumah lama dan sebagian area carport. Dengan luas bangunan sekitar 197,76 m², penataan massa bangunan dilakukan agar keberadaannya tidak mendominasi tapak, melainkan menyatu dengan dua bangunan eksisting di sekitarnya.
Pendekatan ini memungkinkan rumah baru hadir sebagai elemen transisi yang memperkuat keterkaitan antara fungsi hunian dan usaha, sekaligus menjaga kenyamanan sirkulasi di dalam tapak.

Kamar Utama Menghadap Taman
Kamar tidur utama menjadi salah satu fokus utama dalam perancangan rumah ini. Ruang tidur ditempatkan di bagian depan bangunan dan menghadap langsung ke taman, sehingga memiliki hubungan visual yang kuat dengan area luar.
Dua sisi bukaan jendela berukuran besar memungkinkan cahaya alami masuk secara optimal sekaligus menghadirkan pandangan ke arah hijau taman. Penataan ini menjadikan kamar tidur terasa lapang dan nyaman, serta memberikan suasana tenang untuk beristirahat.

Bentuk Bangunan dan Ruang Transisi
Bangunan dirancang satu lantai dengan komposisi yang sederhana dan proporsional. Atap limasan dipilih untuk menjaga kesinambungan bentuk dengan bangunan eksisting, sekaligus menyesuaikan dengan kondisi iklim tropis.
Area teras dibuat cukup luas sebagai ruang peralihan dari luar ke dalam rumah. Teras ini berfungsi sebagai area penyambut yang nyaman, memberikan jeda sebelum memasuki ruang dalam, serta memperkuat kesan keterbukaan rumah.

Bukaan, Taman, dan Kenyamanan Ruang
Bukaan jendela besar ditempatkan pada beberapa sisi bangunan, terutama di ruang keluarga dan kamar tidur utama, untuk memastikan cahaya dan udara alami dapat menjangkau ruang dalam. Kehadiran taman di depan dan samping rumah turut memperhalus tampilan bangunan sekaligus menghadirkan suasana yang lebih sejuk.
Keterhubungan antara ruang dalam dan luar ini membuat aktivitas di dalam rumah tetap terasa dekat dengan lingkungan sekitar.

Material yang Selaras dengan Lingkungan
Pemilihan material dilakukan dengan mempertimbangkan keselarasan visual dengan bangunan di dalam tapak. Atap menggunakan genteng tanah liat berwarna merah bata, sementara dinding memadukan plesteran cat putih dengan aksen bata merah ekspos pada beberapa bidang tertentu.
Pintu utama menggunakan kayu solid dengan finishing natural, sementara jendela menggunakan kusen aluminium hitam berdesain ramping untuk memaksimalkan masuknya cahaya alami. Material pada area teras dan tangga dipilih bertekstur agar aman digunakan sekaligus menyatu dengan elemen taman.
Baca Juga : Zayed National Museum : Arsitektur Ikonik Foster + Partners di Jantung Distrik Budaya Abu Dhabi

Rumah tinggal Ibu Bertha di Muntilan dirancang sebagai hunian satu lantai yang tenang dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya, melalui penataan massa bangunan yang kontekstual, bukaan yang optimal, serta pemilihan material yang selaras dengan bangunan eksisting di dalam tapak. Dengan mengutamakan kenyamanan ruang, pencahayaan alami, dan hubungan yang kuat antara ruang dalam dan taman, rumah ini hadir sebagai tempat tinggal yang sederhana, terang, dan mudah digunakan dalam keseharian.


